Sabtu, 26 November 2011

Ikan, Madu dan Adat Gunung Sahilan


Sore yang cerah menyambut kedatangan para aktivis River Defender di Desa Sahilan Darussalam, Kecamatan Gunung Sahilan. Kelelahan yang mendera selama berperahu di bawah sengatan matahari segera hilang saat haluan menyentuh bibir pantai berlumpur di desa ini. Empat belas orang aktivis River Defender segera menghambur ke darat untuk melepas lelah.
Sebuah warung sederhana menyambut kami dengan suguhan khas “es madu” yang segar. Kepala yang pening akibat sengatan matahari (heat stroke) pun terobati. Minuman segar ini memang bukan minuman ringan biasa
Madu yang jadi bahan utamanya telah dikenal luas sebagai obat dan minuman kesehatan. Saat kita meminum es madu, maka kita akan mendapatkan efek berganda, yaitu lepasnya dahaga serta kesehatan.

Gunung Sahilan adalah salah satu daerah penghasil madu alam yang cukup terkenal. Warga setempat telah memelihara pohon madu (sialang) sejak berpuluh bahkan ratus tahun yang lalu. Daerah ini tampaknya telah dianugerahi oleh Sang Pencipta menjadi daerah penghasil madu. Jika kita menyusuri sungai di sekitar Gunung Sahilan, maka dengan mudah kita dapat melihat puluhan koloni lebah madu yang bersarang pada cabang-cabang pohon Rengas (Glutta renghas) raksasa di tepian sungai. Pada sebatang pohon Rengas, kita dapat menemukan lebih dari sepuluh sarang lebah madu. Sementara itu pohon Rengas dapat dijumpai di hampir setiap tempat di tepian Sungai Kampar Kiri. Berdasarkan penuturan dari beberapa warga setempat, produksi madu dari daerah Gunung Sahilan dapat mencapai 10 ton setiap bulannya. Sebuah angka produksi madu yang luar biasa melimpah.

Setiap pohon madu di sini dilindungi secara adat. Jika ada yang menebangnya, maka ia akan terkena sanksi adat dengan nilai yang cukup besar. Orang yang terkena sanksi harus menyediakan satu ekor kerbau untuk disembelih sebagai gantinya. Pengenaan sanksi ini sendiri harus dilakukan dengan persetujuan lembaga pemegang aturan adat, yaitu Ninik Mamak.

Cerita madu ini membuat para aktivis River Defender memperpanjang waktu persinggahannya di Gunung Sahilan, hingga hari Senin (7 Juni 2010) siang. Ketertarikan para aktivis juga didorong oleh cerita-cerita lain yang jarang diketahui orang tentang tempat ini.

Di sini pernah ada sebuah kerajaan tua yang bernama Kerajaan Gunung Sahilan. Dari penuturan Kepala Desa Sahilan Darussalam dan beberapa orang tua yang ditemui, kerajaan ini telah ada bahkan sebelum berdirinya kota Pekanbaru. Sayangnya keberadaan kerajaan ini tidak dikenal luas dalam cerita sejarah umum. Padahal di tempat ini masih bisa dijumpai adanya istana kerajaan yang sampai sekarang masih dipergunakan sebagai pusat kegiatan-kegiatan adat.

Adat memang masih dipegang teguh oleh masyarakat Gunung Sahilan, tak hanya untuk urusan pernikahan dan kematian. Kegiatan mencari ikan juga dilindungi oleh aturan adat. Hal ini mungkin terjadi karena sebagian besar warga Gunung Sahilan tak bisa lepas dari keberadaan Sungai Kampar Kiri. Lebih dari 50% penduduknya menggantungkan kehidupan ekonominya pada kegiatan mencari ikan di sungai sejak dahulu kala. Sebagai contoh, adanya pengenaan sanksi adat pada orang yang melakukan pengambilan ikan dengan cara merusak seperti penggunaan racun dan listrik di wilayah ini. Sanksinya adalah satu ekor kerbau.

Setiap 5 tahun sekali masyarakat Gunung Sahilan menyelenggarakan perhelatan adat besar yang terkait dengan kelangsungan hidup nelayan sungai serta kelestarian sungai itu sendiri. Kegiatan ini disebut dengan nama “Menyemah Rantau”. Dalam kegiatan ini seluruh warga masyarakat berkumpul bersama dalam sebuah acara yang mirip dengan selamatan atau kenduri. Seekor kerbau akan disembelih untuk acara ini. Kemudian kepala kerbau tersebut dihanyutkan di batas hulu kenegerian Gunung Sahilan di Sungai Kampar Kiri.

Itu lah Gunung Sahilan, sebuah wilayah adat kenegerian yang cukup unik di sepanjang Sungai Kampar Kiri. Keberadaan sarang lebah madu di tepian sungai ini seakan jadi penanda bahwa ekosistem sungai telah menyediakan beragam hasil alam pada masyarakat Gunung Sahilan. Begitu pentingnya madu dan ikan sehingga membuat dua produk lokal ini pun harus diatur pengelolaannya secara adat. Selama beratus tahun adat telah berperan penting bagi kehidupan orang-orang Gunung Sahilan. Wajar bila hingga kini aturan adat yang menyangkut ikan sungai dan madu tetap dipegang teguh.

Semoga aturan adat seperti ini mampu bertahan dalam situasi sekarang. Situasi dimana hutan dan sungai semakin rusak, buruknya tingkat perekonomian masyarakat, dan rendahnya kepedulian orang akan upaya pelestarian lingkungan. Setidaknya adat Gunung Sahilan dapat menjamin perbaikan kehidupan ekonomi nelayan sungai dan kelestarian Sungai Kampar Kiri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar